Sayangnya dia bukan pacar pertama atau cinta pertama bagiku, it’s must be perfect story. Kabar baiknya adalah... He’s the first kiss in my love story. Dia ini sosok yang sangat cute saat pertama kali aku melihatnya, usiaku saat itu baru lima belas tahun, if i am not mistaken he was 21 years old.
Ca’ begitu aku memanggilnya dan akan hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutan itu, aku. Sekitar delapan tahun yang lalu aku mengenalnya sebagai laki-laki yang cukup pemalu di kampungku, tidak neko-neko, rajin membantu nenek dan kakeknya berkebun, dua orang tua yang ia miliki, dan yang sangat spesial adalah dia rajin solat.
Meski kurang puas dengan tinggi badannya yang hanya dua sentimeter lebih tinggi dariku, tetap saja dia spesial, alisnya tebal persis ulat bulu, ia memiliki mata yang tajam nan indah dan dihiasi bulu mata yang lentik, membuatku iri sebagai perempuan. Ia pandai memadupadakan warna dan memilih busana, hehe... berbanding terbalik denganku. Entah mantra apa yang ia miliki untuk menaklukkanku waktu itu, aku selalu merindukan semua aroma yang keluar dari tubuhnya, aroma nafasnya, aroma tubuhnya, sampai detik ini aku tak pernah melupakan aroma parfum yang dulu selalu ia gunakan setiap mengantar atau menjemputku di sekolah, mmm... that was so beautiful, girl! Jantungku selalu dag dig dug meski hanya melihatnya dari kejauhan.
Aku selalu bangga bersanding dengannya. Ada seorang cewek di sekolahku, namanya Eri, kakak kelasku yang cukup populer di sekolah kala itu menghampiriku dengan antusiasnya di suatu jam istirahat
“Bil, yang tadi pagi itu pacarmu ya?”
“hah?” responku heran.
Tidak sadar aku ternganga ketika sedang asik-asiknya mengunyah makan siang favoritku, nasi kuning. Keluar deh, ndeso nya...
“Keren yah... mahasiswa ya? Kuliah dimana?” serangnya, Aku hanya tersenyum bodoh alias cengengesan.
“Segitu kerennya kah pacarku?” batinku.
Beberapa orang yang juga sedang asyik menikmati makan siangnya terlihat mendongak ke arahku, membuatku semakin Ge-eR saja.
“Mahasiswa??? Hmm... yang benar saja, nganggur kok!” umpatku dalam hati.
Beruntung cewek ramping itu segera berlalu tanpa menunggu jawabanku. Lagi pula akan kujawab apa pertanyaan bodoh itu. Haahh... dasar anak SMA!.
Ada juga Minie, salah seorang sahabatku yang track recordnya paling diakui satu geng gara-gara kebiasaannya mengomentari penampilan setiap orang yang lewat, jangankan warna pakaian yang tabrak lari atau model pakaian yang ketinggalan zaman, kalau itu sih kelihatan jelas, alangkah hebatnya temanku yang satu ini mulai dahi orang yang sedikit lebar saja, hidung pesek, hidung asimetris alias miring dikit, kaki X, kaki O, bibir monyong dikit, sampai bekas luka orang di tangan pun tak luput dari perhatian dan komentarnya. Ada kekhawatairan tersendiri bagiku untuk mengenalkan pacar yang tidak sempurna padanya. Tahukah kamu apa komentarnya pada suatu pagi?
“Oh, jadi itu toh pacarmu, Bil?”
“Mampus saya!” kataku dalam hati, aku sudah siap mendengarkan komentar pedasnya yang mengigit seperti biasa. Aku mengangguk lemas setengah tertunduk.
“Manis juga, matanya bagus!. Topi hitam, baju merah hati, plus celana jeans pendek, seleranya matcing juga. Eh pasti rajin bersihin motor, motornya bersiiih... mengkilap! Warna motornya juga keren, putih silver, warna masa kini, hehe...” katanya meracau tanpa titik apalagi koma, seperti itulah ia biasanya.
Tunggu! Hanya itu? Tidakkah dia berminat untuk mengomentari tinggi badan pacarku itu? Kepalaku kuangkat, aku menoleh ke arah gadis cerewet nan bawel yang punya pacar seabreg itu, aku tersenyum bangga, ia kembali fokus pada upacara bendera yang sedang berlangsung, artinya komentar selesai! ...ssshhhhhhhh... kenapa ya aku merasa angin berhembus tanpa sebab?, tiba-tiba udara terasa begitu sejuknya meski yang lain sedang menikmati teriknya matahari yang semakin meninggi.
“Yyes! Alhamdulillah! Untung naek motor, yaiya lah pendeknya gak kliatan” batinku meloncat-loncat senang, terbebas dari komentar negatif.
Dia laki-laki yang memenuhi kriteria pendamping ideal bagiku, do you know? Dia adalah sosok yang lebih senang berterus terang ketimbang ngalor ngidul dengan rayuan gombal khas laki-laki, ia sungguh penyayang. Segalanya menjadi manis meski kadang dibumbui konflik, tentu saja karena sifatku yang kekanak-kanakan, please deeh... sevent years ago i am still fifteen years old, tapi tahukah kamu aku sangat mengagumi kesabaran dan ketenangannya saat menghadapi gadis tempramental sepertiku. Pada akhirnya aku sendiri tak mengerti mengapa hubungan semanis itu harus berahkir, sulit bagiku untuk mengurainya kembali. Yang kudengar ia merantau ke Kalimantan dan menjadi seorang pelaut di sana. Tepat satu tahun yang lalu facebook mempertemukan kami kembali, benar saja istilah Cinta Lama Bersemi Kembali itu. Sayangnya hubungan itu tidak bertahan lama, sampai saat ini aku masih kebingungan dibuatnya.
Dia menghindar setiap kali aku membicarakan soal cinta dan perasaan, di titik-titik inilah aku sampai pada kesimpulan bahwa ia tak mencitaiku (lagi). Tiba-tiba saja dia mundur setelah mendengar pengakuan itu. Ia bisa mencintaiku dengan satu syarat, itu bukan cinta, apa bedanya dengan berkompromi, apa bedanya dengan jual beli. Aku mengerti jika ia kebingungan akan melanjutkan hubungan ini atau lebih baik mencari gadis lain yang tepat seperti impiannya. Tapi apa maksudnya jika ia tidak bisa melupakanku, atau terlampau cepat merespon semua pesanku, atau selalu menghawatirkanku, atau selalu mendokanku, atau selalu merasa senang ketika mengingatku, atau selalu menginginkan aku dalam keadaan bahagia meski aku tak terlihat olehnya. Aku terlampau berharap menjadi takdirnya, apa dayaku, ia selalu ada di setiap lamunanku, lebih dari itu, di setiap hembusan nafasku. Sering aku berkhayal ketika bangun di pagi hari seorang pria melingkarkan tangannya di pinggulku, kami hanya berbalutkan selimut dan sesaat sebelum membuka mata, pria itu mengecup keningku dengan hangatnya, aku terjaga, tidak salah lagi pria itu adalah dia, yang selalu kuimpikan. Meski berencana untuk menaklukkan dunia pagi ini, tubuhku menjadi enggan untuk beranjak, pelukan ini begitu nikmatnya untuk ditanggalkan.
What can i do to make you love me... what can i do to make you care... lagu ini mungkin cocok denganku. Aku berniat untuk melupakan saja perasaan ini, andai saja itu mudah bagiku. Aku berpikir untuk mencari saja pria lain yang sekiranya bisa menggantikan posisinya di otakku.
‘‘Aku selalu mengingatmu’’ kataku dalam sebait pesan beberapa jam yang lalu, balasannya baru ku terima beberapa menit yang lalu ‘’thank you very much, Nabila Syaiful’’ balasnya entah dengan maksud apa. ‘’untuk apa?’’ tanyaku lagi. ‘’belum tidur? Begadang yah?’’ yang benar saja aku bisa tidur dengan perasaan segalau ini, ‘’sepertinya akan begitu, nggak bisa tidur nih’’ balasku ogah-ogahan, bingung. ‘’Ntar aku telpon ya’’ hmm... tambah bingung, cowok yang satu ini ingin apa dariku? Hubungan apa yang diharapkannya dariku?
Aku harus sanggup hanya dengan dijadikan teman olehnya meskipun sejujurnya aku tak mau. Sekarang aku mengerti di hatinya sudah tidak ada tempat bagiku untuk menjadi seorang kekasih, hanya sebagai seorang sahabat plus mantan. Miris. Kurelakan posisi itu karena hanya dengan cara itu aku tetap bisa menikmati betapa indahnya seorang Syamsuryadi.