Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

1070 KATA UNTUK KANDA SURIADI



         Namanya Suriadi, meski kampung halaman dan namanya sama, ini bukan soal mantan pacarku tapi kakak kelasku di kampus beberapa tahun lalu. Aku masih sangat polos nan culun ketika melihatnya pertama kali di UKM PERSMA (Unit Kegiatan Pers Mahasiswa).
“Mau kasi’ kembali formulir kak”
kataku sambil menyodorkan formulir pendaftaran yang telah kuisi lengkap.
Setelah grasak grusuk dengan beberapa teman cewek, akhirnya aku memberanikan diri menyodorkan formuli-formulir itu, ada rasa segan, malu, dan salah tingkah setiap kali berhadapan dengan kakak kelas. Kali ini kami sedang berhadapan dengan empat cowok kampus yang tiga dari mereka penampilannya “wartawan banget”, wajar namanya saja sudah Pers Mahasiswa. Dari cara berpakaiannya mereka mencerminkan kemerdekaan berpikirnya
“keren juga”
Bathinku.
Mereka adalah kak Amin, Kak Yogi, dan Kak Upay. Pandanganku tertuju pada satu orang lagi, kelihatannya Ada satu orang yang berbeda diantara mereka, yang satu ini lebih mirip anak-anak remaja mesjid, kusebut remaja tapi sepertinya sudah punya umur, tongkrongannya sangat dewasa, mirip wartawan juga tidak, karena tidak ada potongan sama sekali, atau mahasiswa? Ah, aku ragu ragu, tapi nyatanya dia di depanku sekarang, tentu dia mahasiswa. Tongkrongannya benar-benar unik, Celana kain panjang hitam yang dikenakannya tidak sampai di mata kaki layaknya celana panjang yang digunakan laki-laki pada umumnya, waktu itu celana macam begini masih sangat asing bagiku, di Banjarmasin juga banyak remaja mesjid, tapi yang potongan celananya seperti ini tidak pernah ku temui, ternyata Makassar jauh lebih heterogen dari yang kukira, and you know I was new comer in Makassar meski kota ini adalah kota kelahiranku. Well,  aku melongok ke bawah ia kelihatan akrab dengan sendal jepit nippon warna hijau (*terus terang aku lupa entah hijau, biru atau warna kuning) yang digunakannya, ini tidak membuatku ilfil tapi aku justru merasa yakin akan bergabung dengan Unit kegiatan mahasiswa ini,
“cocok deh, join di sini. Sepertinya akan menemukan kemerdekaan di sini, tidak ada aturan berpakaian formal kayak jurusan akuntansi yang serba harus rapi, formil, matching, dll”
Hatiku berbisik senang, sudah merindukan kebebasan setelah beberapa minggu di atur sedemikian ketat dengan tetek bengek warna pakaian, baju kemeja, rok kain dan sepatu di program studi Akuntansi tercinta.
Aku masih tertarik memperhatikan pria aneh ini, Baju kemeja yang ia gunakan saat itu mungkin kemeja favoritnya, hehehe aku sering melihatnya dengan baju kemeja ini, warnanya biru keabu-abuan, ia tidak di lengkapi perkakas lengkap ditubuhnya seperti Kak Yogi dan Kak Upay yang menggunakan topi, atau tas pinggang, jam tangan, scarf, kamera, tape recorder genggam, kacamata hitam yg menggantung di dada, atau apapun yang ada pada saat itu,  orang ini betul-betul apa adanya, perkakas satu-satunya yang ia miliki hanya kacamata bulat yang entah minus berapa ukurannya. Perhiasannya juga hanya satu, ia memiliki senyum yang begitu antusias, saat tersenyum orang ini tidak tanggung-tanggung, semua bariasan giginya terlihat jelas, menandakan ia bersahabat, tidak membahayakan bagi siapapun, dan lebih dari itu ia senang bertemu dengan yang ada di hadapannya.
Kesan pertama tentang kebebasan berpakaian, anggota Pers yang begitu welcome, dan prinsip tidak adanya kekerasan dan paksaan dalam memilih yang dipegang teguh memantapkanku bergabung dengan Pers mahasiswa, singkat cerita jadilah diriku ini wartawan kampus Politeknik Negeri Ujungpandang yang kerjanya selalu bertanya dari satu sumber ke sumber lain, mencari fakta dan realita yang terjadi di kampus, membandingkan dan  menyajikan informasi yang kami peroleh dari nara sumber, tak jarang harus melewati kerasnya tantangan beberapa pihak yang anti jika kebenaran tentang dirinya dimuat di buletin Metanoiac kami, aku berani mempertanggung jawabkan tulisan dan berita yang kami buat, tak ada satu kata pun yang mengada-ada, semua terekam, dan diakui pada awalnya. Adakalanya kami dibanggakan, tapi tidak jarang juga menuai cemooh berbagai pihak entah birokrasi bahkan mahasiswa. Entah, aku juga heran, apa semua orang sudah kehilangan sisi Gentlenya untuk mengakui sebuah kebenaran tentang dirinya sendiri? begitu pikirku saat itu. Sekilas tentang pekerjaan kami. Tiba-tiba aku jadi begitu membara mengingat penglaman masa-masa perjuangan itu, mari kuceritakan kembali pada orang yang tertera namanya di judul tulisan ini.
Kanda Suryadi punya selera humornya sendiri dalam memimpin, ia tahu betul tekanan yang ada di sekitar kami, dan tahu bagaimana memotivasi tim. Sesuatu yang tidak bisa terlupa dari karakter kepemimpinannya, ia punya bakat mempererat keakraban antara kami semua yang notabene kami semua datang dari berbagai penjuru yang berbeda, karakter, kebiasaan, dan kepercayaan yang juga berbeda. Sejauh yang ku temui saat itu, belum pernah ada ketua umum UKM atau himpunan mahasiswa PNUP yang menjadikan sekretariat organisasi kampus sebagai tempat makan siang dan tempat makan malam bersama.  Menu favorit kami waktu itu adalah nasi hangat masakan Kak Adi (beras yang tersedia ini adalah beras kiriman dari kampung. Karena niatnya rice cooker pun bertengger sekian lama di sana) tempe goreng, dan mi instan rasa soto,  ada-ada saja datangnya tempe goreng dan mi instan itu menghampiri kami, entah patungan atau ada yang berbaik hati menyumbangkan miliknya, pengalaman ini tak tergantikan dan benar-benar tak terlupa,  aku selalu tersenyum geli ketika hal ini terbayang dibenakku, masa dimana kami semua tak segan menunjukkan  bahwa kami ini bokek,  miskin, uang jajajn kiriman dari orang tua terbatas, dan hanya punya itu, tapi tidak masalah, kami bisa tetap kompak. *hiks.. terharu*

Sebagai laki-laki ia punya prinsip, tidak mau menyentuh perempuan yang belum halal baginya, aku salut pada prinsipnya yang satu ini. Pernah suatu ketika, di jam pulang saat sedang tidak ada agenda kerja liputan, seingatku hari itu ada beberapa orang, aku perempuan satu-satunya waktu itu, sudah hal yang biasa meminta teman pria untuk mengantarku pulang, jarak tempat kos dan kampus cukup jauh meski setiap hari bisa kutempuh dengan jalan kaki, tapi emang dasar senang mengambil kesempatan agar bisa di antar pulang dengan motor, dan semua mengerti dengan hal itu, di zamanku dulu jumlah perempuan itu minoritas dalam organisasi, jadi kami mendapat perhatian lebih dari pria-pria ini, hehehe... lumayan, bisa manja-manja, kemarin dulu di antar Kak Herman, kemarinnya lagi Hilal, Suaib juga salah satu teman yang setia menemaniku pulang,Tadi malam ada Adam, nah kali ini ada kak Adi
“Kak Adi, Nebeng ka’ pulang nah..”
Kataku dengan santainya sambil tersenyum manja.
Ia menoleh, kemudian menunduk, tersenyum dengan gaya khasnya, lalu mendongak lagi padaku
“Hahaha... saya belum bisa...”
Jawabnya lembut sambil mengusap kepalanya, tuturnya saaangat lembut, tapi bathinku menangkap ada ketegasan di balik itu, meski saat itu aku bingung bukan kepalang apa maksudnya.
“hha? belum bisa? Maksud lo?”
Tanyaku dalam hati, seingatku semua pekerjaan liputan sudah beres, atau dia berencana untuk menginap? Ah.. aturan kampus melarang mahasiswa untuk menginap di sekretariat, atauuu... se-pemalu itukah dia padaku? Hmmm.. Kalau aku tidak salah berhitung sudah berbulan-bulan aku sudah sangat akrab dengannnya, ada apa dengan laki-laki yang satu ini? Belum ada satu teman pria pun yang mampu menolak mengantarku pulang. Aku hanya bisa balik menoleh padanya dengan alis mengerut.
Belum sempat aku berpikir terlalu jauh, ia kembali menyahut
“hehehe... kamu kan belum halal bagiku dek...”
Oalaaaahhhh... itu toh masalahnya, seketika mataku terbelalak, belum pernah ada laki-laki yang mengatakan ini padaku, ada perasaan salah tingkah, tapi lucu juga, teman priaku yang lain hanya bisa tersipu, ada yang hanya diam, ada juga yang berdecak entah kagum atau mengejek, aku tidak peduli respon mereka waktu itu. Di telingaku seperti ada yang berbisik
“keren, orang ini memang benar-benar unik”
29th  March 2012 03:34 am



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar