‘’Pokoknya pagi ini harus bangun jam lima!”
Begitu seringnya aku bertekad, belakangan ini mataku baru bisa
tertutup hanya setelah lewat jam dua belas malam bahkan jam tiga. Berbicara mengenai harus bangun pagi,
solat subuh tepat waktu, atau "jangan tidur di pagi hari", maka akan ada dua orang dalam benakku yang pasti
sangat kecewa jika aku melanggar aturan itu, yah benar saja mereka adalah ibu
dan nenekku tercinta. Jika nenek tahu aku bangun terlambat dan memastikan cucu
sulungnya ini meninggalkan solat subuh, aku benar-benar di landa rasa berdosa,
nada kecewa di pangkal tenggorokannya dapat kudengar diantara bunyi kresek-kresek
jaringan ponselku ketika ia menghubungiku, jika sudah seperti ini wajahku hanya
bisa mengerut, tunduk, dan diam tanpa kata. Ibuku sedikit lebih extream,
pukul setengah enam pagi ia akan mengomel tanpa tanda koma apalagi tanda titik,
tanpa bernapas saking marahnya dan tanpa basa-basi ia akan menarik kedua kakiku
(yang terbilang kekar untuk ukuran perempuan, maklum atlet hehehe :D) hingga
turun dari tempat tidur, tidak peduli itu akan terasa sangat sakit untuk
seorang anak perempuan. Hehe, i love
you mom.
Kuraih tombol power untuk menyalakan televisi, kebiasaan
ini terbilang baru sejak kemunculan seorang ustadz jenaka dari kotaku yang
merintis karirnya sampai di jakarta dan menjadi idola baru di dunia dakwah,
tidak salah lagi ustadz dengan gaya yang lebai dan kental dengan aksen bugis
makassar itu adalah Muhammad Nur Maulana, kebanggaan bagi kami orang Makassar
dan sekitarnya. Ceramahnya tak hanya membuat orang ngaca, tapi juga
mengocok perut.
Ini Kuanggap sebagai kebiasaan baru, biasanya sih paling
malas menonton televisi di pagi hari, Yeah.. tahu sendiri lah menyalakan
televisi di pagi hari dan mengawali aktivitas indera pendengaran dan
penglihatan dengan kabar yang tidak berimbang entah berkenaan dengan kisruh kasus
korupsi di Indonesia atau perceraian dan konflik antara selebriti benar-benar
merusak moodku di pagi hari.
Kemarin ketika sedang kesal dengan keputusan HRD di kantor,
aku menemukan sebuah buku yang sudah lama tak ku baca dari Ajahm Brahm, seorang
biksu ahli meditasi yang yang aslinya seorang bule tulen, ketika aku membuka
halaman yang berjudul marah, seketika dalam beberapa menit saja energi yang
meraung-raung sejak pagi itu membaik berganti dengan kebahagiaan, aku tersenyum
sendiri melihat dan menyadari betapa bodohnya aku selama ini.
Beberapa menit setelah mendengar dua berita terakhir
reportase pagi, tiba saatnya menyaksikan acara kesayanganku, dan tahukah kamu
apa tema kali ini di islam itu indah? Sholat Subuh. Setengah terperangah, Great! Apa
Ustadz Maulana mengawasiku? Hahaa... siapa si looe? pastilah bukan kebetulan,
seperti apa kata Bob Proctor dalam The Secret, “there’s no accident! We all working in one power, one law, it’s
atraction” inilah jawaban dari doa-doaku setiap saat, ya Allah tuntun
aku, pelihara aku di jalanmu yang lurus. Ia memang tidak secara langsung
menjadikanku tapi menunjukkan jalan ke arah yang ku minta, ia membuka jalan
agar aku dapat menemuinya, ia memberiku peluang untuk berbenah diri. Aku
benar-benar meneteskan air mata pagi ini, berani-beraninya aku menuntut atas
nama ambisi duniaku sementara aku tak pernah menimbang penyerahan yang
kupersembahkan pada-Nya, cinta-Nya padaku, betapa tidak adilnya aku pada-Nya,
betapa aku mengabaikan kasih sayang-Nya padaku.
“Jika
ingin tahu seseorang munafik atau tidak, lihat solat subuhnya, jika ingin
mengetahui keimanan seseorang, lihat solat subuhnya” penggalan kalimat yang di
bawakan oleh ustadz Maulana dengan cepatnya ini terngiang di telingaku
sepanjang hari.
“sadakta
wabarakta...”







0 komentar:
Posting Komentar