Hari ini Jumat 12 September tahun
2014. Tidak ada yang kebetulan, aku sedang menuangkan beberapa pengalaman
menarik dalam tulisan di layar komputer dan kutemukan judul file microsoft word
ini “RezTu” dua tahun yang lalu aku menulisnya sebagai persembahan untuk
sahabatku tersayang yang akan memasuki usia ke-24, empat hari setelah aku
sendiri baru memasuki usia 23, suatu malam di bulan april. Tulisan ini akan
kuposting di blog pribadiku tapi entah kenapa aku melupakan rencana itu begitu
saja, aku dan sahabatku ini malah sibuk mempersiapkan acara ulangtahun bersama di
sebuah restoran di kota Makassar dengan mengundang beberapa teman SMA, beserta
pasangan tentunya J .
Dua tahun yang lalu aku memang tidak
menyelesaikan tulisan ini, terlalu banyak ide yang muncul saat itu, terus
terang bingung akan menulis yang mana duluan, terlalu banyak kenangan yang bisa
dituangkan, Setelah membacanya kembali
hari ini, terutama kalimat terakhir, Aku tau, aku mengerti, aku memang tidak
harus meneruskannya dua tahun yang lalu, karena sang waktu menjelsakan lebih
dari yang terlihat, lebih dari mampu kupahami..
Makassar, 14 april 2012 23:00 pm
REZKI
TUNNISA, REZKI TUNNISA, apa ya yang menarik untuk dituliskan tentangnya? Hm...
aku hanya butuh waktu kurang dari satu detik untuk memutuskan bahwa banyak hal
yang bisa kuceritakan tentangnya di Blogku kali ini, tulisan ini ku
persembahkan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh empat *ups!
keceplosan, ketahuan udah mulai udzur yah...
Kuawali
dengan doa, aku berharap diusianya kali ini ia segera mendapatkan pasangan
ideal dambaannya karena ku tahu hal yang satu ini sedang menjadi prioritasnya,
amin.
Aku
mengenalnya sembilan tahun yang lalu di pertengahan tahun 2003 saat menjadi
siswa baru SMA, kesan pertamaku terhadapnya sangat biasa dan tidak menarik,
entah apa yang ada di pikirannya ketika masa orientasi berakhir dengan PD nya
ia menawarkan diri,
‘’kita duduk sebangku aja
ya..’’
Aku
speechless kala itu, otakku juga
kebingungan melihat antusiasme dan percaya dirinya yang tidak tanggung-tanggung
tapi akhirnya mengangguk juga tanda mengiyakan, antara tidak tega menolak dan
penuh tanda tanya
‘’Emang ni orang punya apa
untukku kalo kita duduk sebangku?’’ pikirku keras.
‘’Mau kasih contekan? Ah posisiku
selalu terjaga dari tiga besar selama SMP, asal jangan di kasi matemetika aja,
hahaa...’’ lanjutku dalam hati.
‘’Atau anak ini paling gaul di
sekolah? kayaknya sih tidak’’ aku benar-benar melongo kali ini. Tapi sudahlah,
toh aku sudah terlanjur mengangguk, siapa tahu anak ini bisa berguna suatu saat
nanti. .
![]() |
| Rumah kos kenangan di masa kuliah |









0 komentar:
Posting Komentar