Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Namanya Athar

Muhammad Athar
    Adikku yang satu ini memang spesial, jika kamu hanya melihatnya hanya satu kali, kesanmu pasti "anak ini bodoh". tampangnya culun, rambutnya bisa rapi hanya jika habis di cukur dengan model cepak, hanya untuk hari itu saja. Matanya sipit, sayangnya kulitnya agak coklat tidak putih, andai putih kan mirip Orang Cina, hehehehe... ia mewarisi hidung mancung dari ibu ku, tapi mewarisi model gigi ayahku yang besar di bagian tengahnya dan ada spasi yang terbentang agak lebar, hehe,,, kebayang kan? Badannya tinggi ideal sebelum kuliah di Makassar, sekarang?? oh my god perutnya buncit karena kebiasaan sering ngemil dan kurang olahraga. Benda apapun jika sudah singgah di tangannya yeaah kalo bukan hilang yah rusak, beda tipis lah sama diriku yang juga teledor ini. Kata ibuku mungkin ini kebiasaan yang menurun dari ayahku, soalnya kakekku juga satu tipe dengan kami, Teledor, perusak benda dan sangat pelupa, lengkaplah sudah.

    Diam-diam aku menaruh salut pada remaja yang satu ini, sejak SD hobinya membaca, ia melahap setiap tulisan yang ada dihadapannya, entah buku, koran, majalah, Alqur'an, kertas bekas yang ada tulisannya, sampai bekas catatanku waktu SMP ia sikat tanpa suara, KUTU BUKU, itulah gelarnya sejak dulu di keluarga ini, ia menaruh minat besar pada pelajaran Matematika, Sejarah, dan Agama Islam. Waktu aku masih duduk di bangku SMA tidak jarang aku salah tingkah bin kebingungan ketika dilontarinya pertanyaan-pertanyaan yang menurutku aneh, tidak disangkaa-sangka, dan menurutku ngapain dipikirin! kadang ada juga pertanyaannya yang menampar luar biasa, 
"eh, katanya menjawab adzan itu pahalanya lebih bagus ya dari sholat sunat yah?" 
celetuknya tiba-tiba suatu sore
"mmm... eee, nggak tau... kok tanya gitu? aku baru dengar..." 
jawabku bingung saat itu. 
Mungkin ia mengira aku tahu semua yang ingin ia tanyakan, buku-buku ku lengkap sejak SMP, Aku tipe anak yang senang belajar, ia melihat itu dariku, tak heran aku adalah teman diskusi yang nyambung di rumah baginya. Namun bagiku ia lebih dari yang terlihat, lebih banyak membaca dariku, aku tertinggal olehnya. sejak SD Athar sudah mengerti politik, mengerti negara islam itu apa dan bagaimana. Menurut testimoni teman sekelasnya waktu itu kira-kira seperti ini; Suatu ketika beberapa kali ia telat masuk jam sekolah, saat itu ia masih di bangku kelas 5, gurunya bertanya 
"M.Athar kemana? sakit ya?" 
beberapa teman kelasnya nyeletuk 
"paling nonton berita bu!"  
Sejak saat itu aku belajar lebih giat, membaca lebih banyak, aku tidak ingin terlihat bodoh ketika ia bertanya lain kali.
    Kami tinggal satu rumah sebagai saudara sejak aku lulus dari SMP, orang tuaku punya 4 orang anak yang harus di urus ketika memutuskan pindah ke Banjarmasin mengikuti ayah, Athar satu-satunya saudara laki-lakiku saat itu, jadilah iya yang dititipkan pada nenek. Bersama Nenek selama bertahun-tahun membuat karakternya seperti sekarang ini. Jangan pernah menawar kejujuran miliknya, ia paling teguh dengan prinsip yang satu ini. Aku sering malu sendiri dibuatnya, pernah suatu ketika aku berniat bersekongkol tapi akhirnya gagal karena ternyata ia tidak bisa diajak berbohong...

To be continued

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Leadership Developmant Training mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Pikiran yang positiv dan tindakan yang positiv akan membawamu pada hasil yang positiv.,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Posting Komentar