Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Syamsuryadi

  
            Sayangnya dia bukan pacar pertama atau cinta pertama bagiku, it’s must be perfect story. Kabar baiknya adalah... He’s the first kiss in my love story. Dia ini sosok yang sangat cute saat pertama kali aku melihatnya, usiaku saat itu baru lima belas tahun,  if i am not mistaken he was 21 years old.
Ca’ begitu aku memanggilnya dan akan hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutan itu, aku. Sekitar delapan tahun yang lalu aku mengenalnya sebagai laki-laki yang cukup pemalu di kampungku, tidak neko-neko, rajin membantu nenek dan kakeknya berkebun, dua orang tua yang ia miliki, dan yang sangat spesial adalah dia rajin solat.
Meski kurang puas dengan tinggi badannya yang hanya dua sentimeter lebih tinggi dariku, tetap saja dia spesial, alisnya tebal persis ulat bulu, ia memiliki mata yang tajam nan indah dan dihiasi bulu mata yang lentik, membuatku iri sebagai perempuan. Ia pandai memadupadakan warna dan memilih busana, hehe... berbanding terbalik denganku. Entah mantra apa yang ia miliki untuk menaklukkanku waktu itu, aku selalu merindukan semua aroma yang keluar dari tubuhnya, aroma nafasnya, aroma tubuhnya, sampai detik ini aku tak pernah melupakan aroma parfum yang dulu selalu ia gunakan setiap mengantar atau menjemputku di sekolah, mmm... that was so beautiful, girl! Jantungku selalu dag dig dug meski hanya melihatnya dari kejauhan.
Aku selalu bangga bersanding dengannya. Ada seorang cewek di sekolahku, namanya Eri, kakak kelasku yang cukup populer di sekolah kala itu menghampiriku dengan antusiasnya di suatu jam istirahat
“Bil, yang tadi pagi itu pacarmu ya?”
 “hah?” responku heran.
Tidak sadar aku ternganga ketika sedang asik-asiknya mengunyah makan siang favoritku, nasi kuning. Keluar deh, ndeso nya...
“Keren yah... mahasiswa ya? Kuliah dimana?” serangnya, Aku hanya tersenyum bodoh alias cengengesan.
“Segitu kerennya kah pacarku?” batinku.
Beberapa orang  yang juga sedang asyik menikmati makan siangnya terlihat mendongak ke arahku, membuatku semakin Ge-eR saja.
“Mahasiswa??? Hmm... yang benar saja, nganggur kok!” umpatku dalam hati.
Beruntung cewek ramping itu segera berlalu tanpa menunggu jawabanku. Lagi pula akan kujawab apa pertanyaan bodoh itu. Haahh... dasar anak SMA!.
Ada juga Minie, salah seorang sahabatku yang track recordnya paling diakui satu geng gara-gara kebiasaannya mengomentari penampilan  setiap orang yang lewat, jangankan warna pakaian yang tabrak lari atau model pakaian yang ketinggalan zaman, kalau itu sih kelihatan jelas, alangkah hebatnya temanku yang satu ini mulai dahi orang yang sedikit lebar saja, hidung pesek, hidung asimetris alias miring dikit, kaki X, kaki O, bibir monyong dikit, sampai bekas luka orang di tangan pun tak luput dari perhatian dan komentarnya. Ada kekhawatairan tersendiri bagiku untuk mengenalkan pacar yang tidak sempurna padanya. Tahukah kamu apa komentarnya pada suatu pagi?
“Oh, jadi itu toh pacarmu, Bil?”
“Mampus saya!” kataku dalam hati, aku sudah siap mendengarkan komentar pedasnya yang mengigit seperti biasa. Aku mengangguk lemas setengah tertunduk.
“Manis juga, matanya bagus!. Topi hitam, baju merah hati, plus celana jeans pendek, seleranya matcing juga. Eh pasti rajin bersihin motor, motornya bersiiih... mengkilap! Warna motornya juga keren, putih silver, warna masa kini, hehe...” katanya meracau tanpa titik apalagi koma, seperti itulah ia biasanya.
Tunggu! Hanya itu? Tidakkah dia berminat untuk mengomentari tinggi badan pacarku itu? Kepalaku kuangkat, aku menoleh ke arah gadis cerewet nan bawel yang punya pacar seabreg  itu, aku tersenyum bangga, ia kembali fokus pada upacara bendera yang sedang berlangsung, artinya komentar selesai! ...ssshhhhhhhh... kenapa ya aku merasa angin berhembus tanpa sebab?, tiba-tiba udara terasa begitu sejuknya meski yang lain sedang menikmati teriknya matahari yang semakin meninggi.
“Yyes! Alhamdulillah! Untung naek motor, yaiya lah pendeknya gak kliatan” batinku meloncat-loncat senang, terbebas dari komentar negatif.
            Dia laki-laki yang memenuhi kriteria pendamping ideal bagiku, do you know? Dia adalah sosok yang lebih senang berterus terang ketimbang ngalor ngidul dengan rayuan gombal khas laki-laki, ia sungguh penyayang. Segalanya menjadi manis meski kadang dibumbui konflik, tentu saja karena sifatku yang kekanak-kanakan, please deeh... sevent years ago  i am still fifteen years old, tapi tahukah kamu aku sangat mengagumi kesabaran dan ketenangannya saat menghadapi gadis tempramental sepertiku. Pada akhirnya aku sendiri tak mengerti mengapa hubungan semanis itu harus berahkir, sulit bagiku untuk mengurainya kembali. Yang kudengar ia merantau ke Kalimantan dan menjadi seorang pelaut di sana. Tepat satu tahun yang lalu facebook mempertemukan kami kembali, benar saja istilah Cinta Lama Bersemi Kembali itu. Sayangnya hubungan itu tidak bertahan lama, sampai saat ini aku masih kebingungan dibuatnya.
Dia menghindar setiap kali aku membicarakan soal cinta dan perasaan, di titik-titik inilah aku sampai pada kesimpulan bahwa ia tak mencitaiku (lagi). Tiba-tiba saja dia mundur setelah mendengar pengakuan itu. Ia bisa mencintaiku dengan satu syarat, itu bukan cinta, apa bedanya dengan berkompromi, apa bedanya dengan jual beli. Aku mengerti jika ia kebingungan akan melanjutkan hubungan ini atau lebih baik mencari gadis lain yang tepat seperti impiannya. Tapi apa maksudnya jika ia tidak bisa melupakanku, atau terlampau cepat merespon semua pesanku, atau selalu menghawatirkanku, atau selalu mendokanku, atau selalu merasa senang ketika mengingatku, atau selalu menginginkan aku dalam keadaan bahagia meski aku tak terlihat olehnya. Aku terlampau berharap menjadi takdirnya, apa dayaku, ia selalu ada di setiap lamunanku, lebih dari itu, di setiap hembusan nafasku. Sering aku berkhayal ketika bangun di pagi hari seorang pria melingkarkan tangannya di pinggulku, kami hanya berbalutkan selimut dan sesaat sebelum membuka mata, pria itu mengecup keningku dengan hangatnya, aku terjaga, tidak salah lagi pria itu adalah dia, yang selalu kuimpikan. Meski berencana untuk menaklukkan dunia pagi ini, tubuhku menjadi enggan untuk beranjak, pelukan ini begitu nikmatnya untuk ditanggalkan.
What can i do to make you love me... what can i do to make you care... lagu ini mungkin cocok denganku. Aku berniat untuk melupakan saja perasaan ini, andai saja itu mudah bagiku. Aku berpikir untuk mencari saja pria lain yang sekiranya bisa menggantikan posisinya di otakku.
            ‘‘Aku selalu mengingatmu’’ kataku dalam sebait pesan beberapa jam yang lalu, balasannya baru ku terima beberapa menit yang lalu ‘’thank you very much, Nabila Syaiful’’ balasnya entah dengan maksud apa. ‘’untuk apa?’’ tanyaku lagi. ‘’belum tidur? Begadang yah?’’  yang benar saja aku bisa tidur dengan perasaan segalau ini, ‘’sepertinya akan begitu, nggak bisa tidur nih’’ balasku ogah-ogahan, bingung. ‘’Ntar aku telpon ya’’ hmm... tambah bingung, cowok yang satu ini ingin apa dariku? Hubungan apa yang diharapkannya dariku?
            Aku harus sanggup hanya dengan dijadikan teman olehnya meskipun sejujurnya aku tak mau. Sekarang aku mengerti di hatinya sudah tidak ada tempat bagiku untuk menjadi seorang kekasih, hanya sebagai seorang sahabat plus mantan. Miris. Kurelakan posisi itu karena hanya dengan cara itu aku tetap bisa menikmati betapa indahnya seorang Syamsuryadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Solat subuhku…

‘’Pokoknya pagi ini harus bangun jam lima!”
Begitu seringnya aku bertekad, belakangan ini mataku baru bisa tertutup hanya setelah lewat jam dua belas malam bahkan jam tiga. Berbicara mengenai harus bangun pagi, solat subuh tepat waktu, atau "jangan  tidur di pagi hari", maka akan ada dua orang dalam benakku yang pasti sangat kecewa jika aku melanggar aturan itu, yah benar saja mereka adalah ibu dan nenekku tercinta. Jika nenek tahu aku bangun terlambat dan memastikan cucu sulungnya ini meninggalkan solat subuh, aku benar-benar di landa rasa berdosa, nada kecewa di pangkal tenggorokannya dapat kudengar diantara bunyi kresek-kresek jaringan ponselku ketika ia menghubungiku, jika sudah seperti ini wajahku hanya bisa mengerut, tunduk, dan diam tanpa kata. Ibuku sedikit lebih extream, pukul setengah enam pagi ia akan mengomel tanpa tanda koma apalagi tanda titik, tanpa bernapas saking marahnya dan tanpa basa-basi ia akan menarik kedua kakiku (yang terbilang kekar untuk ukuran perempuan, maklum atlet hehehe :D) hingga turun dari tempat tidur, tidak peduli itu akan terasa sangat sakit untuk seorang anak perempuan. Hehe, i love you mom.
Kuraih tombol power untuk menyalakan televisi, kebiasaan ini terbilang baru sejak kemunculan seorang ustadz jenaka dari kotaku yang merintis karirnya sampai di jakarta dan menjadi idola baru di dunia dakwah, tidak salah lagi ustadz dengan gaya yang lebai dan kental dengan aksen bugis makassar itu adalah Muhammad Nur Maulana, kebanggaan bagi kami orang Makassar dan sekitarnya. Ceramahnya tak hanya membuat orang ngaca, tapi juga mengocok perut.
Ini Kuanggap sebagai kebiasaan baru, biasanya sih paling malas menonton televisi di pagi hari, Yeah.. tahu sendiri lah menyalakan televisi di pagi hari dan mengawali aktivitas indera pendengaran dan penglihatan dengan kabar yang tidak berimbang entah berkenaan dengan kisruh kasus korupsi di Indonesia atau perceraian dan konflik antara selebriti benar-benar merusak moodku di pagi hari.
Kemarin ketika sedang kesal dengan keputusan HRD di kantor, aku menemukan sebuah buku yang sudah lama tak ku baca dari Ajahm Brahm, seorang biksu ahli meditasi yang yang aslinya seorang bule tulen, ketika aku membuka halaman yang berjudul marah, seketika dalam beberapa menit saja energi yang meraung-raung sejak pagi itu membaik berganti dengan kebahagiaan, aku tersenyum sendiri melihat dan menyadari betapa bodohnya aku selama ini.
Beberapa menit setelah mendengar dua berita terakhir reportase pagi, tiba saatnya menyaksikan acara kesayanganku, dan tahukah kamu apa tema kali ini di islam itu indah? Sholat Subuh. Setengah terperangah, Great! Apa Ustadz Maulana mengawasiku? Hahaa... siapa si looe? pastilah bukan kebetulan, seperti apa kata Bob Proctor dalam The Secret, “there’s no accident! We all working in one power, one law, it’s atraction” inilah jawaban dari doa-doaku setiap saat, ya Allah tuntun aku, pelihara aku di jalanmu yang lurus. Ia memang tidak secara langsung menjadikanku tapi menunjukkan jalan ke arah yang ku minta, ia membuka jalan agar aku dapat menemuinya, ia memberiku peluang untuk berbenah diri. Aku benar-benar meneteskan air mata pagi ini, berani-beraninya aku menuntut atas nama ambisi duniaku sementara aku tak pernah menimbang penyerahan yang kupersembahkan pada-Nya, cinta-Nya padaku, betapa tidak adilnya aku pada-Nya, betapa aku mengabaikan kasih sayang-Nya padaku.
“Jika ingin tahu seseorang munafik atau tidak, lihat solat subuhnya, jika ingin mengetahui keimanan seseorang, lihat solat subuhnya” penggalan kalimat yang di bawakan oleh ustadz Maulana dengan cepatnya ini terngiang di telingaku sepanjang hari.

 “sadakta wabarakta...”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

nenekku idolaku

Kamu tidak akan percaya, sosoknya diusia yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun tetap terlihat tinggi semampai dan tegap, kulitnya yang mulai mengeriput meninggalkan jejak bahwa sewaktu ia masih muda ia memiliki kulit yang kencang dan halus. kalau nenekku bilang "tidak" maka itu berarti tidak akan terjadi, jangan pernah tidak mematuhinya, dia sosok yang paling tahu segala sesuatunya, jagan pernah melanggar peraturannya, kamu akan menerima akibatnya, entah pelajaran tambahan darinya atau sekedar hukuman kecil dari tuhan untuk anak yang mendurhakai ibu atau neneknya. Singkatnya "lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan tapi akibatnya harus kamu tanggung sendiri' itulah arti tatapan tajamnya jika kamu membelot. butt... do you know, setelah aku mengakui dan menyesali setiap kesalahanku, dia akan menghampiriku, mengelus punggungku, tidak banyak bicara, ia hanya akan bergumam 'sekarang kamu sudah mengerti'. ia merasa tak perlu untuk mengatakan "jangan ulangi lagi'.
Di sini aku hanya tinggal seorang diri, tidak akan ada yang mengomel jika aku terbangun jam 7 pagi (artinya tidak solat subuh). tidak ada yang menegur jika aku tidur terlampau malam, tertawa tebahak-bahak yang menurutnya sangat tidak feminin,  atau pulang ke rumah tak tepat waktu. Tahhukah kamu aku merindukan semua itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

my own WORLDDDDD

hhmmmmm ... great! I have it! yeah! This is my world no one would bother. welcome to the real you ..... Saya masih ingat saat-saat SMP yang penuh dengan "khayalan tingkat tinggi" (quoted from ariel peterpan), buku-buku harian yang tersusun tinggi karena setiap jam ada-ada saja yang ingin ditorehkan oleh tangan ini. Jangankan buku harian, buku catatan matematika bagian belakang pun penuh oleh khayalan yang lewat begitu saja di otakku, atau sekedar puisi-puisi singkat yang kadang membuat beberapa teman kelasku melongo memandangi isi tulisan-tulisan polos itu. tidak jarang aku menorehkannya diikuti oleh raut wajah yang masam atau sambil tersenyum dan terlihat bodoh (menurut beberapa orang teman dan guruku) some of my teachers said " I'm a little crazy" atau "bilz going crazy"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS