Namanya
Suriadi, meski kampung halaman dan namanya sama, ini bukan soal mantan pacarku
tapi kakak kelasku di kampus beberapa tahun lalu. Aku masih sangat polos nan
culun ketika melihatnya pertama kali di UKM PERSMA (Unit Kegiatan Pers
Mahasiswa).
“Mau kasi’ kembali formulir kak”
kataku sambil menyodorkan formulir pendaftaran yang telah
kuisi lengkap.
Setelah grasak grusuk dengan beberapa
teman cewek, akhirnya aku memberanikan diri menyodorkan formuli-formulir itu,
ada rasa segan, malu, dan salah tingkah setiap kali berhadapan dengan kakak
kelas. Kali ini kami sedang berhadapan dengan empat cowok kampus yang tiga dari
mereka penampilannya “wartawan banget”, wajar namanya saja sudah Pers
Mahasiswa. Dari cara berpakaiannya mereka mencerminkan kemerdekaan berpikirnya
“keren juga”
Bathinku.
Mereka adalah kak Amin, Kak Yogi, dan Kak
Upay. Pandanganku tertuju pada satu orang lagi, kelihatannya Ada satu orang yang
berbeda diantara mereka, yang satu ini lebih mirip anak-anak remaja mesjid, kusebut
remaja tapi sepertinya sudah punya umur, tongkrongannya sangat dewasa, mirip
wartawan juga tidak, karena tidak ada potongan sama sekali, atau mahasiswa? Ah,
aku ragu ragu, tapi nyatanya dia di depanku sekarang, tentu dia mahasiswa.
Tongkrongannya benar-benar unik, Celana kain panjang hitam yang dikenakannya
tidak sampai di mata kaki layaknya celana panjang yang digunakan laki-laki pada
umumnya, waktu itu celana macam begini masih sangat asing bagiku, di
Banjarmasin juga banyak remaja mesjid, tapi yang potongan celananya seperti ini
tidak pernah ku temui, ternyata Makassar jauh lebih heterogen dari yang kukira,
and you know I was new comer in Makassar
meski kota ini adalah kota kelahiranku. Well,
aku melongok ke bawah ia kelihatan akrab
dengan sendal jepit nippon warna hijau (*terus terang aku lupa entah hijau,
biru atau warna kuning) yang digunakannya, ini tidak membuatku ilfil tapi aku
justru merasa yakin akan bergabung dengan Unit kegiatan mahasiswa ini,
“cocok deh, join di sini. Sepertinya akan menemukan kemerdekaan
di sini, tidak ada aturan berpakaian formal kayak jurusan akuntansi yang serba
harus rapi, formil, matching, dll”
Hatiku berbisik senang, sudah merindukan kebebasan setelah
beberapa minggu di atur sedemikian ketat dengan tetek bengek warna pakaian,
baju kemeja, rok kain dan sepatu di program studi Akuntansi tercinta.
Aku masih tertarik memperhatikan pria
aneh ini, Baju kemeja yang ia gunakan saat itu mungkin kemeja favoritnya,
hehehe aku sering melihatnya dengan baju kemeja ini, warnanya biru keabu-abuan,
ia tidak di lengkapi perkakas lengkap ditubuhnya seperti Kak Yogi dan Kak Upay
yang menggunakan topi, atau tas pinggang, jam tangan, scarf, kamera, tape
recorder genggam, kacamata hitam yg menggantung di dada, atau apapun yang ada
pada saat itu, orang ini betul-betul apa
adanya, perkakas satu-satunya yang ia miliki hanya kacamata bulat yang entah
minus berapa ukurannya. Perhiasannya juga hanya satu, ia memiliki senyum yang
begitu antusias, saat tersenyum orang ini tidak tanggung-tanggung, semua
bariasan giginya terlihat jelas, menandakan ia bersahabat, tidak membahayakan
bagi siapapun, dan lebih dari itu ia senang bertemu dengan yang ada di
hadapannya.
Kesan pertama tentang kebebasan
berpakaian, anggota Pers yang begitu welcome,
dan prinsip tidak adanya kekerasan dan paksaan dalam memilih yang dipegang
teguh memantapkanku bergabung dengan Pers mahasiswa, singkat cerita jadilah
diriku ini wartawan kampus Politeknik Negeri Ujungpandang yang kerjanya selalu bertanya
dari satu sumber ke sumber lain, mencari fakta dan realita yang terjadi di
kampus, membandingkan dan menyajikan
informasi yang kami peroleh dari nara sumber, tak jarang harus melewati
kerasnya tantangan beberapa pihak yang anti jika kebenaran tentang dirinya dimuat
di buletin Metanoiac kami, aku berani
mempertanggung jawabkan tulisan dan berita yang kami buat, tak ada satu kata
pun yang mengada-ada, semua terekam, dan diakui pada awalnya. Adakalanya kami
dibanggakan, tapi tidak jarang juga menuai cemooh berbagai pihak entah
birokrasi bahkan mahasiswa. Entah, aku juga heran, apa semua orang sudah kehilangan
sisi Gentlenya untuk mengakui sebuah
kebenaran tentang dirinya sendiri? begitu pikirku saat itu. Sekilas tentang
pekerjaan kami. Tiba-tiba aku jadi begitu membara mengingat penglaman masa-masa
perjuangan itu, mari kuceritakan kembali pada orang yang tertera namanya di
judul tulisan ini.
Kanda Suryadi punya selera humornya
sendiri dalam memimpin, ia tahu betul tekanan yang ada di sekitar kami, dan
tahu bagaimana memotivasi tim. Sesuatu yang tidak bisa terlupa dari karakter
kepemimpinannya, ia punya bakat mempererat keakraban antara kami semua yang
notabene kami semua datang dari berbagai penjuru yang berbeda, karakter,
kebiasaan, dan kepercayaan yang juga berbeda. Sejauh yang ku temui saat itu, belum
pernah ada ketua umum UKM atau himpunan mahasiswa PNUP yang menjadikan
sekretariat organisasi kampus sebagai tempat makan siang dan tempat makan malam
bersama. Menu favorit kami waktu itu
adalah nasi hangat masakan Kak Adi (beras yang tersedia ini adalah beras
kiriman dari kampung. Karena niatnya rice cooker pun bertengger sekian lama di
sana) tempe goreng, dan mi instan rasa soto, ada-ada saja datangnya tempe goreng dan mi
instan itu menghampiri kami, entah patungan atau ada yang berbaik hati
menyumbangkan miliknya, pengalaman ini tak tergantikan dan benar-benar tak
terlupa, aku selalu tersenyum geli
ketika hal ini terbayang dibenakku, masa dimana kami semua tak segan
menunjukkan bahwa kami ini bokek, miskin, uang jajajn kiriman dari orang tua
terbatas, dan hanya punya itu, tapi tidak masalah, kami bisa tetap kompak.
*hiks.. terharu*
Sebagai laki-laki ia punya prinsip, tidak
mau menyentuh perempuan yang belum halal baginya, aku salut pada prinsipnya
yang satu ini. Pernah suatu ketika, di jam pulang saat sedang tidak ada agenda
kerja liputan, seingatku hari itu ada beberapa orang, aku perempuan
satu-satunya waktu itu, sudah hal yang biasa meminta teman pria untuk
mengantarku pulang, jarak tempat kos dan kampus cukup jauh meski setiap hari
bisa kutempuh dengan jalan kaki, tapi emang dasar senang mengambil kesempatan
agar bisa di antar pulang dengan motor, dan semua mengerti dengan hal itu, di
zamanku dulu jumlah perempuan itu minoritas dalam organisasi, jadi kami
mendapat perhatian lebih dari pria-pria ini, hehehe... lumayan, bisa
manja-manja, kemarin dulu di antar Kak Herman, kemarinnya lagi Hilal, Suaib
juga salah satu teman yang setia menemaniku pulang,Tadi malam ada Adam, nah
kali ini ada kak Adi
“Kak Adi, Nebeng ka’ pulang nah..”
Kataku dengan santainya sambil tersenyum manja.
Ia menoleh, kemudian menunduk, tersenyum dengan gaya
khasnya, lalu mendongak lagi padaku
“Hahaha... saya belum bisa...”
Jawabnya lembut sambil mengusap kepalanya, tuturnya
saaangat lembut, tapi bathinku menangkap ada ketegasan di balik itu, meski saat
itu aku bingung bukan kepalang apa maksudnya.
“hha? belum bisa? Maksud lo?”
Tanyaku dalam hati, seingatku semua pekerjaan liputan sudah
beres, atau dia berencana untuk menginap? Ah.. aturan kampus melarang mahasiswa
untuk menginap di sekretariat, atauuu... se-pemalu itukah dia padaku? Hmmm.. Kalau
aku tidak salah berhitung sudah berbulan-bulan aku sudah sangat akrab
dengannnya, ada apa dengan laki-laki yang satu ini? Belum ada satu teman pria
pun yang mampu menolak mengantarku pulang. Aku hanya bisa balik menoleh padanya
dengan alis mengerut.
Belum sempat aku berpikir terlalu jauh, ia kembali
menyahut
“hehehe... kamu kan belum halal bagiku dek...”
Oalaaaahhhh... itu toh masalahnya, seketika mataku
terbelalak, belum pernah ada laki-laki yang mengatakan ini padaku, ada perasaan
salah tingkah, tapi lucu juga, teman priaku yang lain hanya bisa tersipu, ada
yang hanya diam, ada juga yang berdecak entah kagum atau mengejek, aku tidak
peduli respon mereka waktu itu. Di telingaku seperti ada yang berbisik
“keren, orang ini memang benar-benar unik”
29th
March 2012 03:34 am







