Jadi namanya “A” umurku dua belas tahun waktu itu. Aku adalah
panitia MOSS (Masa Orientasi Siswa Sekolah) di SMP Negeri 3 Kandangan Kalimantan
Selatan ketika anak ini menjadi siswa baru di sekolah kami. Ini adalah kesekian
kalinya aku jatuh cinta pada lawan jenis, aku tipe cewek yang sangat mudah
kagum dan suka pada makhluk manis ciptaan tuhan yang bernama pria, percaya
tidak percaya pertama kali aku jatuh cinta pada seorang laki-laki adalah di
hari ketiga aku duduk dikelas 1 SD Negeri 1 Segeri, Sulawesi Selatan. Yah.. dia
ketua kelasku, kalau tidak salah tahun 1994, usiaku 5 tahun ketika pertama
tertarik pada anak lelaki itu, namanya “T”. Jadi bayangkanlah kira-kira Si “A” inii
adalah laki-laki keberapa yang pernah kusukai, hehehee..
Karena sedang ranum-ranumnya, karena sedang bodoh-bodonya,
karena sedang unyu-unyunya, dan karena sedang penasaran-penasarannya dengan
hal-hal baru di luar rumah, tak menunggu waktu lama aku memutuskan untuk nembak
duluan pada si “A” tentunya karena saran dari semua teman genk ku waktu itu
yang hampir semuanya sudah punya pacar, lebih tepatnya mereka “ngomporin” untuk
nembak duluan, ahh.. tau sendiri lah bagaimana serunya darah muda yang pernah
mengalir di tubuhmu di usia belasan. Nembak duluan adalah hal terakhir yang
bisa kupikirkan dan kulakukan jika itu adalah inisiatifku sendiri, misalnya
sisa persediaan cowok di bumi ini tinggal 1, misalnya! Aku sangat kolot untuk
hal yang satu ini, gengsiku sebagai perempuan teramat besar untuk memikirkan
hal ini sendirian.
Yah.. dan
tibalah kami di hari penembakan. Kelas II B dan kelas IA adalah kelas yang
saling membelakangi, jam istirahat pertama nampaknya akan jadi jam terpanas
yang pernah kulalui selama SMP. Aku berjalan di barisan paling depan diikuti
oleh keduabelas teman genk dibelakangku, layaknya sedang memimpin perang, kami
adalah CK (baca Si Key) Cewek Komersil, aku dan lima orang diantara mereka
adalah tim basket sekolah kami, dua lainnya sudah mencapai tinggi badan 160 cm,
jadi bayangkanlah betapa bongsornya kami waktu itu. Entah siapa yang
membocorkan, nampaknya si “A” tahu betul akan rencana dan maksud kedatangan
kami, ia tidak sedang berkeliaran di jam istirahat, seakan tahu seseorang akan
datang untuknya. Tidak ada waktu untuk basa-basi jam istirahat berakhir dalam
setengah jam.
“Ri, aku suka sama kamu, sejak pertama ketemu waktu
pendaftaran siswa baru. Kamu mau nggak jadi pacarku? Aku butuh jawaban sekarang”
Suasana jadi riuh seketika, sepertinya kantin sekolah sudah
pindah ke kelas IA, semua orang tiba-tiba berkumpul di tempat ini, *fiuhh* kalo
ingat kejadian ini aku hanya bisa tepok jidat, lalu menutup mata dengan kedua
tanganku.
Sumpah frenn.. riuhnya sekolah waktu
itu benar-benar mati rasa di telingaku, kayaknya aku Cuma bisa dengar suaranya
dan suaraku saja, kuperhatikan dia mulai salah tingkah, garuk-garuk kepala,
menutup mulut rapat-rapat karena menahan tawa atau malu, entahlah. Cukup lama
aku mempermalukan diriku ditengah puluhan atau mungkin ratusan siswa waktu itu,
akhirnya ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Ini serius, Bel?”
Bela adalah nama panggilanku di sekolah saat itu. Entah
kenapa warga Kabupaten Kandangan agak susah membedakan huruf I dan huruf E
dalam perbincangan.
“Iya, serius. Gimana? Kamu mau nggak?”
Rupanya temanku sudah mulai tidak sabaran, sepuluh menit lagi
bel masuk berdering, beberapa temanku sudah mulai berkacak pinggang, tapi
tahukah kamu bahwa aku merasa baru lima menit berdiri dihadapannya, oh.. cinta
monyettt, indahnya.
“Iya, aku mau.. sebenarnya............ bla bla bla bla..!@@+_))((*&&
^^%$##@ @!~!@#$%! @!@#9878 621000 085418!@ @##^^^^ #&&”
FIUCHHHH!!!!!!!!!!! Berasa ada angin segar yang mengalir dari
dada kehidung, PLONG!
Entah kalimat apa yang keluar dari mulutnya setelah jawab
IYA, aku tak mampu mendengar lagi, dan lagi pula aku tak butuh kalimat
tambahan, aku hanya butuh jawaban iya.
Subhanallahhh.... Peccah ributnya!!! Aku
tak ingin keburu senang, aku masih sempat mencubit kedua lenganku untuk
memastikan tidak sedang bermimpi dan harus bangun di akhir cerita. Ya tuhan ini
sungguh nyata, aku punya pacar!! Yeayy!!!
Hmm.. sejak jam istirahat itu bumi
ini penuh warna, bunga dimana-mana, semua-muanya jadi warna pink, biru muda,
kuning, nila, ahhhh.. tidak ada beban, bahkan aku bisa tersenyum manis saat di
semprot ibu Hulailah di tengah kelas, guru tergalak se-Kalimantan Selatan..
ppppffffftttt.







